RSS

What boy thinks and What girl thinks. And what else that makes them misunderstand.

20 Nov

Judulnya panjang ya? Padahal kalau disingkat bisa aja, tapi jadi ga lengkap ga panjang dan ga keren lagi, sepertinya. Kalau disingkat mungkin akan jadi seperti ini “what makes boy and girl misunderstand” atau “misunderstand between boy and girl”. Mana bahasa Inggris pula, yang aku ga ngerti grammarnya bener atau ga. Pas udah baca judul yang keren, eh isinya malah bahasa Indonesia. Gapapa lah. Kan cinta Indonesia 😀

Oke, sebenernya ini cuma opiniku sejak lama, yang aku ambil dari pengalamanku dan pengalaman teman. Jadi dataset udah mencukupi lah untuk diketahui polanya dan ditarik kesimpulan (bukan kuliah Kecerdasan Buatan atau Data Mining euy, ingat!) Cuma mungkin baru semalam aku berhasil mendapatkan jawaban dari pria yang berproses menuju dewasa. Yah mungkin jawaban mas ini ga bisa mewakili pemikiran mas-mas lainnya. Jadi kalau mau cari jawaban dari pemikiran mas-mas lainnya, silakan, boleh juga menambahkan di komentar.

Langsung saja, sudah terlalu banyak basa-basi, aku akan menuliskan dalam bentuk poin per poin, pasal per pasal (dikira mau bahas undang-undang?). Dan untuk lebih mudah, cowok diwakili dengan nama Budi dan cewek diwakili dengan nama Santi. Ada keterkaitan antara Budi dan Santi? Aku ga tau, cuma pilihan nama saja. 😀

Poin 1

Pikiran Budi : “Kalau dengan menelepon Santi tiap hari, Santi bakalan merasa kalau aku suka sama dia (baca: Santi bakal GR dan merasa Budi suka sama dia).”

Pikiran Santi : “Aku sih biasa aja dan ga mikir seperti itu. Seiring berjalannya waktu, aku jadi suka sama Budi. Bukan karena GR. Bukan juga karena kebiasaan telepon dari Budi. Tapi aku merasa nyaman dengan keberadaan Budi yang sudah terlalu sering ada.”

Jadi dalam kasus ini, GR dan tidak GR yang membuat salah paham. Toh kalo suatu hari Santi suka sama Budi, ya biarkan aja. Mungkin momennya sedang pas sehingga Santi bisa jadi suka sama Budi. Ada gitu cara supaya batal suka sama orang?

Poin 2.

Pikiran Budi : “Aku tahu, lebih tepatnya merasa, gelagat Santi aneh. Sepertinya Santi mulai ada rasa sama aku. Awalnya aku sih santai dan cuek aja. Tapi lama-lama, kok sinyal dari Santi semakin terbaca ya…”

Pikiran Santi : “Man, susah menyembunyikan perasaan. Sepintar-pintarnya aku, kalau udah nyaman sama seseorang, rasanya pengen deket aja. Pengen cerita ini itu. Pengen terbuka banyak hal. Pengen jalan ke mana aja juga maunya sama dia. Kayak sahabatan aja, kalo udah nyaman, kita bisa enak aja kan jalan ama teman-teman perempuan kita? Mau shopping, sekedar main ke rumah temen rame2, ya seperti itu rasanya. Rasaku ke Budi. Mungkin karena Budi cowok kali ya, ada gender bias di sana.”

Poin 3.

Pikiran Budi : “Wah gawat, aku takut, kalo semakin lama aku deket sama Santi, kasian Santi. Nanti dia semakin berharap lebih sama aku. Mungkin sebaiknya aku mundur pelan-pelan. Biar dia ga sakit hati. Semakin cepat aku mundur, semakin baik. Ini semua juga untuk kebaikannya dia…”

Pikiran Santi : “Wow! Gawat! Ini kenapa lagi sama Budi? Kok tiba-tiba dia ngilang? Huaa.. Mana aku lagi butuh teman cerita. Biasanya kan aku cerita hal ini cuma ke Budi. Masa aku harus cerita ke orang lain? Nanti aku harus memulai ceritanya dari awal dong. Haduh! Budiiii. Kau kemana? Pake acara ngilang segala… In this time that I need you so…” *berubah sedih*

Poin 4.

Pikiran Budi : “Oke, mungkin cukup jaga jaraknya. Saatnya memperbaiki hubungan yang renggang.” *kembali menelepon Santi* “Walah, ternyata Santi belum berubah. Hmm.. Apa sebaiknya aku harus benar-benar stop menghubungi dia? Apa sebaiknya aku juga berhenti merespon permintaan-permintaannya? Demi kebaikan dia…”

Pikiran Santi : “Asyiikk. Budi nelpon lagi. Aku bisa cerita2 lagi, melanjutkan cerita-cerita yang dulu belum kuceritakan. *berubah senang* *Dan mungkin saking senangnya, dia jadi kalap, cerita ini itu dan terlihat agresif di mata Budi. Dan walhasil, Budi jadi semakin takut. Dan risih…*

Oh my, mungkin ini kali ya yang perlu jadi catatan. Budi mikir dengan menghindari Santi, semakin cepat semakin baik. Biar santi tidak berharap lebih dan lebih lagi dan perasaan Santi jadi hilang. Well, it’s not like that actually. Semakin Budi hilang dari kehidupan Santi, Santi semakin kehilangan. Dan semakin besar rasa kehilangan itu, semakin besar pula keinginan untuk mencarinya. Mungkin Budi berpikir “biar Santi benci saja sama aku. Toh ini juga aku lakukan untuk kebaikan dia.” Tapi ga gitu juga kali masbroo. Lebih baik mana seorang manusia hidup dalam rasa tenang dan pada akhirnya semua menjadi biasa dan normal kembali daripada rasa benci akan kehilangan dan rasa gelisah karena terus mencari? Well…

Poin 5

Perkataan Budi : “Aku kalo suka sama cewek, sejak awal suka ama dia. Dari awal udah aku deketin, aku perjuangin. Jarang aku bisa suka seperti sama Santi, yang udah aku anggap temen sendiri. Yang kemudian lama kelamaan perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Meskipun kemungkinan itu ada, tapi jarang…

Perkataan Santi : “Saat aku udah tau cowok itu seperti apa, aku nyaman sama dia, nyambung kalo diajak ngobrol, dia bisa bikin aku seneng, saat itulah perasaanku mulai tumbuh. Mungkin peribahasa witing tresno jalaran soko kulino atau kalau boleh diplesetkan witing tresno jalaran soko nggelibet, ya gini kali ya rasanya…”

Tambahan dari aku, (aku tambahin ya San, untuk juga ikut mewakili perasaanmu)

Well, aku selalu ingin lagu Jason Mraz feat Colbie Caillat jadi ost.ku sama suamiku kelak. Bakal menyenangkan kalo para tamu undangan ga keberatan aku dan suamiku berduet di saat acara pernikahan kami. Lagunya seperti apa? Biar singkat, reffnya aja. ‘Lucky I’m in love with my best friend, lucky to have been where I have been, lucky to be coming home again’ yang artinya ‘beruntungnya aku jatuh cinta dengan sahabatku sendiri, beruntungnya aku bisa berada di tempatku berada, beruntungnya aku bisa pulang ke hatinya lagi…’ ya, home yang dimaksud adalah tempat di mana mereka berdua akan pulang. Atau bisa juga diartikan pulang ke hati yang selalu bersamanya selama ini… That sounds sweet. Hekekekeke

Mungkin untuk sementara ada 5 poin dari percakapan semalam yang bisa kusimpulkan. Akan di-update kalau ada poin lagi. Atau ada yang mau menambahkan? Budi? Santi? 🙂

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull

%d bloggers like this: