RSS

Monthly Archives: December 2013

Kesepakatan dengan Ibunda

Semalam ibu telepon, mengabarkan kebimbangannya, apakah jadi ke Bandung atau tidak. Ibu bertanya apakah kunjungannya ke Bandung akan menggagalkan acaraku dalam mengerjakan proposal, kalau iya, Ibu ga akan berangkat. Awalnya sih ga pengen Ibu ke Bandung. Tapi kapan lagi Ibu bisa ke Bandung dalam waktu yang lama kalau ga selama liburan sekolah seperti sekarang. Karena seringnya, setiap Ibu ke Bandung, sering kuabaikan karena tugas kuliah yang pengerjaannya selalu kutunda-tunda (Sorry, mom). Maka Ibu dan aku membuat kesepakatan. Kalau proposal tesis bisa selesai dalam waktu 2 hari, kalau aku bisa mengerjakannya ngebut sampe ngepot-ngepot dan selesai di Hari Selasa, maka ibu akan ke sini. Kalau tidak, gagallah rencanaku, rencana Ibu, rencana kita. Ibu mau mengajakku ziarah ke Sunan Gunung Jati Cirebon dan berkeliling ke tempat lainnya di sekitaran Jawa Barat. Beruntungnya punya Ibu yang suka jalan-jalan 😀

Menurutmu, bakal jadi ga proposal dalam 2 hari? Apa yang ga bisa kalo aku berusaha? Kadang ngerjakan tugas aja sehari semalam. Paper aja selesai dalam semalam. Proposal metlit juga. Tugas RPL juga. Hihihi. Susah emang kalo harus terus-menerus meniru Sangkuriang (silakan googling : Legenda Tangkuban Perahu) yang semuanya harus jadi dalam waktu satu malam. So, let’s back to work then! Kalau ga selesai? Bagaimana kalau harus selesai? 😀

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on December 23, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 

Jadi Orang Indonesia [Yang Negatif]

Eh, kemarin ada sahabat dari Gresik berkunjung ke Bandung. Namanya Lia (aku biasanya memanggilnya Liu). Dia sahabat sejak SMP. Dia itu tukang kritik pertama untuk masalah penampilanku (yang terbilang cuek), kerapihan kamarku (yang cukup berantakan), dan semuanya. Karena udah sahabatan lama sih ya. Sebenarnya bukan untuk mengunjungiku 100%. Tetapi untuk mengunjungi suaminya, yang merupakan kakak tingkat, yang aku juga kenal. Suaminya bekerja di Garut sedangkan Liu kerja di Surabaya. Sedih ya harus long distance di saat udah menikah dan punya anak 1 yang masih berusia 7 bulan…

Eh tapi bukan itu intinya di postingan blog kali ini. Kemarin Liu pengen nonton dan dia bosan ke Ciwalk. Maka kami memutuskan pergi ke… PVJ. Waah, bisa dibayangkan jalan menuju ke sana macetnya seperti apa. Baru nyampe Ciwalk aja udah macet. Karena kami bermotor, aku bawa motor teman kos, sendiri, sedangkan Liu sama suaminya. Waaah! Baru kemarin aku jadi Orang Indonesia [yang negatif] dalam hal mengendarai motor. Atau lebih tepatnya orang yang aku cap sebagai orang Indonesia ketika bermotor. Sejak pagi keluar bersama adik, aku sudah jadi orang Indonesia [yang negatif] yang menerobos rambu lalu lintas yang baru saja merah. Pas ke PVJ lebih parah lagi. Aku menyalip dari sisi ke kanan untuk kemudian melaju ke kiri, mengambil celah diantara mobil-mobil, mengambil hak pejalan kaki dengan sempat melaju di trotoar, melebihi marka yang sudah ada, berhenti mendadak yang mengakibatkan nyaris ditabrak, tidak fokus ke jalan yang mengakibatkan nyaris nabrak pengendara lain yang berbelok tanpa lampu sign. Wow! Ini pertama kalinya kayaknya keahlian bermotorku meningkat di Bandung. Parah parah… Tapi emang sih, bikin cepet sampe tujuan dalam rangka ‘menikmati’ macet. Mungkin itu kali ya alasan orang melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan di hari kemarin. Cepet. Meskipun harus mengabaikan hak pengendara motor lain, hak pengendara mobil, terutama hak pejalan kaki.

Sisi positifnya, aku menemukan jalan tercepat menuju PVJ. Dengan menggunakan motor *big grin*. Thanks Liu, Mas Ferry 😀

 
 

Hari Tanpa Matahari

Pernah ga sih kamu membayangkan satu hari tanpa matahari?
Yang kamu ketahui cuma gelap
Kamu ga pernah tau kapan pagi datang
Yang ada hanya mendung menggelayut berselimut kabut

Pernah ga sih kamu membayangkan satu hari tanpa matahari?
Yang kamu rasa hanya dingin
Kamu meringkuk sambil meringis dengan baju berlapis
Terik siang yang kamu benci kini mulai kamu cari

Pernah ga sih kamu membayangkan satu hari tanpa matahari?
Kamu mulai merutuk karena cucianmu yang tak kunjung kering
Kerupuk udangmu yang tak mengembang
atau bahkan kembangmu yang enggan bermekaran

Pernah ga sih kamu membayangkan satu hari tanpa matahari?
Endorfin sederhana dan murah yang kamu bisa dapatkan
Hanya dengan berjemur di bawah sinar paginya
Nampaknya harus kau ganti dengan endorfin yang lain

Ahh matahari…
Betapa beruntungnya kau datang dan pergi dengan setia
Selalu tepat waktu dan tak pernah mogok kerja
dan berputar adil di seluruh belahan dunia

Ahh matahari…
Hari tanpa matahari
hanya akan ada mata buta
yang haus akan terang cahaya

Ahh matahari…
Barangkali aku kurang bersyukur sama Tuhan
Karena seringnya engkau mendapatkan pengabaian
Meskipun hadirmu selalu kubutuhkan

Terima kasih Tuhan…
atas MatahariMu yang selalu menghadirkan senyum
*some text
missing*

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 

Mie ayam pagi ini – dan betapa kayanya bahasa kita

Pagi ini, aku dan adikku beli mie ayam di depan SD. Bapak penjual dan istrinya merupakan perantau dari daerah Jawa mana, aku lupa tepatnya. Yah, yang jelas bukan dari Jawa Timur, lebih tepatnya sekitaran Surabaya, karena Bahasa Jawanya beda dengan Bahasa Jawaku (yang kasar seperti Jawane wong Suroboyoan). Karena kemarin saya sedang senang dan ingin iseng, saya bercakap-cakap dengan bapaknya…

“Pak, ndak pake micin yoo”
“Sip”
“Sing siji nyemek-nyemek”,  kataku. “Sing siji ga atek duduh”, adikku menyahut.
“Sik yo nduk, aku tak nggawe sing iki sik”.
“Iyo pak, tak tinggal sik yoo”
Waktu itu lagi rame, banyak pesanan. Aku dan adikku berjalan ke bawah, mencari penjual sayur dan penjual makanan. Penjual makanan tidak jual maka kami hanya membeli sayur, brokoli untuk direbus bersama mie dan tomat untuk irisannya.

Kemudian kami kembali ke bapak penjual mie ayam. Bapaknya masih memasak kepunyaan kita.
“Pak, sing akeh sayure yo pak. Sing akeh mie-ne pisan. Trus sing akeh ayame.”. Aku mengatakannya sambil serius. Biar bapaknya tau, sebenarnya aku sedang serius. Kemudian aku tertawa. Biar bapaknya tau kalo aku lagi becanda barusan, biar nanti aku bayarnya ga mahal-mahal, bisa gawat kalo dianggap serius beneran. Karena aku cuma bawa uang pas.
“Oohh ancene ngomong karo arek cilik, ora cetho”. Hahaha. Apa lagi itu ora cetho? Terus terang aku ga ngerti artinya. (update 16 November 2015, ora cetho artinya tidak jelas).

Mie-pun selesai. Bapaknya kemudian bertanya:
“Iki nggawe ceker ora?” Karena bapaknya tahu aku suka ceker, tanpa kuiyakan pun ceker dimasukkan ke dalam mangkuk. Tapi ada yang aneh dengan bahasanya.
“Lho pak, aku ga nggawe ceker”. Spontan bapaknya menoleh setelah aku berkata seperti itu. Saat bersiap-siap mengambil ceker yang udah di mangkok, aku pun cepat-cepat menyahut, “Lho pak, aku ga nggawe ceker. Kan sing nggawe ceker sampean”. (Kalo di tempatku, nggawe itu artinya lebih seperti buat/bikin. Kalo sama pak ini, nggawe artinya seperti pakai)
“Loh kan, ancene, arek kok ora cetho”. Lagi-lagi pak’e pake kata yang aku ga ngerti artinya.

Sekarang giliran adikku bertanya,
“Pak, sambel e pedes a pak?”
“Ngga, sambel e legi”
“Loh kan, pak e sing ora cetho”. Giliran aku yang menyahut dan membalas si bapak penjual mie ayamnya 😀
“Moso yo takon sambel e pedes opo ora, yo pedes toh ndukk”
“Hahaha, iyo iyo pak e”

Kami menaburi kecap, mengambil sambal, diberi kerupuk pangsitnya. Kemudian aku berkata pada adikku,
“Lho Fi, mie ayam e ndang dibayar, ojo ditinggal mlayu. Hahaha”
Adikku pun memberikan 10ribu untuk 2 mangkok mie ayam.
Aku pun masih saja iseng,
“Wes bener a pak e? ga kurang”
“Wis bener, gapopo, aku kan wonge apikan”
“Hahaha, lek apikan yo ditraktir ae pak”

Kami bertiga pun tertawa, mengabaikan pembeli yang sedari tadi ingin membuka mulut untuk pesan, mengabaikan pembeli mie ayam yang sedang makan di tempat, dan mengabaikan air di dalam tempat memasak mie yang sedari tadi mendidih minta diisi mie lagi…

Terima kasih pak e, semoga senang. 🙂

DSC_0060

See? Meskipun kami sama-sama dari Jawa, tapi kami tidak sepenuhnya saling mengerti bahasa masing-masing. Bahkan sesama Jawa aja banyaaak banget macamnya. Beda tempat pun bisa jadi beda bahasa jawanya dan beda maknanya. Belum lagi dengan bahasa lokal lain. Betapa kayanya bahasa kita…

Bandung di hari Rabu,18 Desember 2013

 
2 Comments

Posted by on December 20, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 

Kuatkah aku menahan rindu?

Semalam ibu telepon. Membahas tabungan, membahas angan-angan penempatan setelah kuliah. Memang, sebenernya aku pengen ditempatkan di tempat baru, biar aku bisa belajar bertahan hidup. Hihihi. Sekaligus aku pengen tahu Indonesiaku seperti apa di sisi lain (karena penempatan di seluruh wilayah Indonesia di manapun adanya). Jadi kemungkinan aku bisa ditempatkan di mana saja kan?

Semalam ibu juga mewanti-wanti:
“Jangan berdoa ditempatkan yang jauh lho ya… Kamu kan sukanya ngawur kalo minta.” (Hehehe. Memang benar beliau ibuku. She knows me so well). “Kasihan mbahmu. Nanti mbahmu angen-angen (kepikiran). Nanti kalo mbahmu kangen, gimana? Kamu susah pulangnya”, lanjut ibu.
“Halah bu, kan cucunya mbah banyak, masih ada 5 lainnya”, kataku.
“Ya iya sih emang masih ada cucu lainnya, tapi kan kamu pernah 4 tahun hidup sama mbahmu. Kalo kamu ga ada kan nyariin. Orang mbahmu kalo ada apa-apa juga nyuruh kamu. Da, beli ini, Da, beli itu”.
“Hehehe, iya iya bu…”.
“Di jawa aja ya nduk. Mau Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, pokoknya di Jawa aja. Enak, kalo pulang bisa naik kereta, naik bis. Kalo ada apa-apa, ibu juga biar gampang nengok kamu. Ga perlu nunggu ada pesawat atau engga.”
Aku hanya iya-iya aja…

Pagi ini perkataan ibu semalam membuat saya merenung… Panjang dan lama… Apa bener mereka yang kangen samaku? Bukan sebaliknya? Akhir-akhir ini aja aku pengen pulang. Barusan nengok kalender, padahal baru tanggal 1 November kemaren pulang, tapi akunya yang ga tahan.

Yakin mereka yang kangen samaku? Bukan aku yang ga kuat kangen sama mereka? Bukan aku yang ga kuat jauh dari rumah? Kalau aku jauh dari rumah dalam waktu yang lama, kuatkah aku menahan rindu? Aku tidak yakin. Ahh… Semoga saja penempatannya ga jauh-jauh dari rumah. Setidaknya sesuai harapan ibu. Di Jawa saja, selama aku bisa pulang naik bis. Atau kereta…

Karena ketika di rumah, seberapa kerasnya badai di luar, ketika aku berada di dalam rumah, aku selalu merasa terlindungi.
Karena ketika di rumah, seberapa kerasnya badai di luar, ketika aku berada di dalam rumah dan melihat orang-orang yang kucintai di sana, aku selalu merasa tenang dan baik-baik saja.

 
Leave a comment

Posted by on December 20, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 
 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull