RSS

Mie ayam pagi ini – dan betapa kayanya bahasa kita

20 Dec

Pagi ini, aku dan adikku beli mie ayam di depan SD. Bapak penjual dan istrinya merupakan perantau dari daerah Jawa mana, aku lupa tepatnya. Yah, yang jelas bukan dari Jawa Timur, lebih tepatnya sekitaran Surabaya, karena Bahasa Jawanya beda dengan Bahasa Jawaku (yang kasar seperti Jawane wong Suroboyoan). Karena kemarin saya sedang senang dan ingin iseng, saya bercakap-cakap dengan bapaknya…

“Pak, ndak pake micin yoo”
“Sip”
“Sing siji nyemek-nyemek”,  kataku. “Sing siji ga atek duduh”, adikku menyahut.
“Sik yo nduk, aku tak nggawe sing iki sik”.
“Iyo pak, tak tinggal sik yoo”
Waktu itu lagi rame, banyak pesanan. Aku dan adikku berjalan ke bawah, mencari penjual sayur dan penjual makanan. Penjual makanan tidak jual maka kami hanya membeli sayur, brokoli untuk direbus bersama mie dan tomat untuk irisannya.

Kemudian kami kembali ke bapak penjual mie ayam. Bapaknya masih memasak kepunyaan kita.
“Pak, sing akeh sayure yo pak. Sing akeh mie-ne pisan. Trus sing akeh ayame.”. Aku mengatakannya sambil serius. Biar bapaknya tau, sebenarnya aku sedang serius. Kemudian aku tertawa. Biar bapaknya tau kalo aku lagi becanda barusan, biar nanti aku bayarnya ga mahal-mahal, bisa gawat kalo dianggap serius beneran. Karena aku cuma bawa uang pas.
“Oohh ancene ngomong karo arek cilik, ora cetho”. Hahaha. Apa lagi itu ora cetho? Terus terang aku ga ngerti artinya. (update 16 November 2015, ora cetho artinya tidak jelas).

Mie-pun selesai. Bapaknya kemudian bertanya:
“Iki nggawe ceker ora?” Karena bapaknya tahu aku suka ceker, tanpa kuiyakan pun ceker dimasukkan ke dalam mangkuk. Tapi ada yang aneh dengan bahasanya.
“Lho pak, aku ga nggawe ceker”. Spontan bapaknya menoleh setelah aku berkata seperti itu. Saat bersiap-siap mengambil ceker yang udah di mangkok, aku pun cepat-cepat menyahut, “Lho pak, aku ga nggawe ceker. Kan sing nggawe ceker sampean”. (Kalo di tempatku, nggawe itu artinya lebih seperti buat/bikin. Kalo sama pak ini, nggawe artinya seperti pakai)
“Loh kan, ancene, arek kok ora cetho”. Lagi-lagi pak’e pake kata yang aku ga ngerti artinya.

Sekarang giliran adikku bertanya,
“Pak, sambel e pedes a pak?”
“Ngga, sambel e legi”
“Loh kan, pak e sing ora cetho”. Giliran aku yang menyahut dan membalas si bapak penjual mie ayamnya 😀
“Moso yo takon sambel e pedes opo ora, yo pedes toh ndukk”
“Hahaha, iyo iyo pak e”

Kami menaburi kecap, mengambil sambal, diberi kerupuk pangsitnya. Kemudian aku berkata pada adikku,
“Lho Fi, mie ayam e ndang dibayar, ojo ditinggal mlayu. Hahaha”
Adikku pun memberikan 10ribu untuk 2 mangkok mie ayam.
Aku pun masih saja iseng,
“Wes bener a pak e? ga kurang”
“Wis bener, gapopo, aku kan wonge apikan”
“Hahaha, lek apikan yo ditraktir ae pak”

Kami bertiga pun tertawa, mengabaikan pembeli yang sedari tadi ingin membuka mulut untuk pesan, mengabaikan pembeli mie ayam yang sedang makan di tempat, dan mengabaikan air di dalam tempat memasak mie yang sedari tadi mendidih minta diisi mie lagi…

Terima kasih pak e, semoga senang. 🙂

DSC_0060

See? Meskipun kami sama-sama dari Jawa, tapi kami tidak sepenuhnya saling mengerti bahasa masing-masing. Bahkan sesama Jawa aja banyaaak banget macamnya. Beda tempat pun bisa jadi beda bahasa jawanya dan beda maknanya. Belum lagi dengan bahasa lokal lain. Betapa kayanya bahasa kita…

Bandung di hari Rabu,18 Desember 2013

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on December 20, 2013 in catatan - catatan, curhat ringan

 

2 responses to “Mie ayam pagi ini – dan betapa kayanya bahasa kita

  1. ucihasantoso

    August 18, 2015 at 12:39 am

    Wah menarik bgt perbandingan bahasanya. BTW, duduh itu artinya apa ya? Makasih.

     
    • rokhimatul

      August 19, 2015 at 6:30 pm

      duduh itu kuah 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull

%d bloggers like this: