RSS

Monthly Archives: January 2014

Cara Nikmat Menikmati Donat J.Xo

Aku suka sekali donat J.Xo (sensor merk). Tiap kali lewat, aku selalu lihat donat apa saja yang terhidang di sana. Suka yang bertopping almond dan yang tidak bolong tengahnya, soalnya isinya macem-macem. Di Bandung banyak yang jual donat J.Xo. Hampir di setiap mall, selalu ada. Kadang ingin mampir, ingin beli, kemudian berpikir, mau makan sama siapa? Terasa sepi. 🙂

Di Gresik, harus ke Surabaya dulu untuk membeli donat. Itupun juga harus perjuangan untuk parkirnya. Selalu dapet yang paling atas. Heran! Mall kok penuh orang. Dan mobil yang parkir. Di Malang juga ga ada. Jadi kalo beli emang harus bener-bener perjuangan. Tapi duhai, itulah yang mebuat donat J.Xo terasa nikmat. Setelah perjuangan seperti itu, sesampainya di rumah, kruyuk kruyuk kruyuk , donat terambil satu satu dan habis dengan rebutan dan gelak tawa. Itu adalah nikmatnya menikmati donat J.Xo. 🙂

Itu pula yang dikatakan sama tanteku. “Nah gini ini enaknya makan J.Xo. Kruyuk kruyuk kruyuk, rebutan, abis. Duh, betapa nikmat”. Dan sepertinya aku setuju dengan tanteku. 🙂

 
Leave a comment

Posted by on January 23, 2014 in catatan - catatan, curhat ringan

 

(Hanya) Sebuah Pizza

Sudah lama tidak menulis. Kangeen! Beberapa hari ini, ibu suka sekali membeli pizza. Ternyata beliau suka sekali sama Pizza. Baru tahu. Hehehe. Di Gresik ada PHD, masih baru. Keren aja di Gresik ada PHD. Secara, bioskop aja tutup di Gresik. Di Gresik cuma ada CFC. Kemudian menyusul ada McD. Well, tapi bukan itu inti dari tulisan kali ini.

Karena pizza, aku jadi teringat cerita tentang pizza, cerita yang sangat menempel di memori otak. Ada 2 kenangan dengan 2 teman yang berbeda tentang pizza. Kenangan yang pertama merupakan kenangan konyol dan menyenangkan waktu makan pizza di tempatnya. Waktu itu masih SMA, ada acara kunjungan universitas dan institut di Surabaya. Setelah itu, bis berhenti di mall dan siswanya dibolehkan keliling mall dalam batas waktu yang telah ditentukan guru. Aku dan temanku memilih untuk mencari makan dan pilihan jatuh ke tempat makan yang khas berjualan pizza dan pasta. Saking semangatnya temanku makan pizza dan memotong pizzanya, entah kenapa tiba-tiba pizza itu melompat dari pan-nya dan mendarat di meja. Dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap tidak ada orang yang melihat, sambil memasang wajah sungkan, diambilnya pizza itu dan kemudian diletakkan di piringnya. Kamipun kemudian tertawa, lamaaa sekali. Itu satu kejadian yang takkan terlupakan. Konyol! Aku bahkan masih ingat setting tempatnya 🙂

Satu kenangan lain tentang pizza. saat itu tahun 2010, aku dan temanku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan (pengalaman menyenangkan mahasiswa selain menghasilkan prestasi yaitu menghasilkan uang), saat itu kami mendapatkan uang yang banyak. Dan temanku ingin pulang ke rumahnya. Namun sebelum pulang, temanku mengajakku ke gubug pizza. Kubilang, kenapa tidak ke sana sendiri? Dia lalu tersenyum sambil berkata “Hehehe. Kan kamu sering ke gubug pizza. Jadi nanti kamu bisa pilihkan aku pizza yang mana yang enak. Ibuku ingin sekali pizza.” Saat itu aku benar-benar terharu dan menahan tangis. Seolah-olah pergi ke gubug pizza adalah biasa bagi sebagian orang. Namun buat sebagian yang lainnya, itu adalah momen yang langka. Aku merekomendasikan Meat Lovers atau Super Supreme, tentu saja. Aku lupa pastinya yang mana jadinya yang ia pilih. Kubayangkan pizza akan menjadi dingin sesampainya di rumahnya. Tapi pizza itu tentu akan disambut bahagia oleh keluarganya temanku 🙂

Seseorang mungkin akan mengatakan hanya sebuah pizza karena saking biasanya makan pizza. Tapi bagi orang yang lain, itu adalah nikmat yang jarang dirasakannya…

 
Leave a comment

Posted by on January 23, 2014 in catatan - catatan, curhat ringan

 

Maafkan aku, ayah dan ibu…

Hari ini, rasanya aku telah gagal menjadi seorang anak. Apa yang aku lakukan selama 24 tahun 9 bulan 18 hari terasa sia-sia. Termasuk membuat ayahku bangga saat menghadiri wisudaku bulan September 2011. Hari ini aku telah membuat ayah menangis ketika menyetir, bukan karena bahagia, tapi lebih karena rasa kecewa sekaligus marah karena anak perempuannya ini tak bisa mengurus dirinya sendiri. Tak pernah kulihat ayahku menangis. Bahkan ketika Juni 2011, ketika mbah yuk (panggilan kepada mbah putri, ibu dari ayahku) harus berpulang ke sisi Allah. Aku hanya melihat air matanya menggantung bahkan malah pasrah karena melihat kakek menjemput nenekku ketika malam (kakek sudah meninggal ketika ayah masih kecil). Kulihat ibu tidak menangis di mobil. Lebih tepatnya menahan tangis. Karena ketika sampai di rumah, ibu masuk kamar cukup lama. Ketika ibu keluar untuk melihatku, aku melihat matanya seperti habis menangis dengan suara berat.

Rasanya tangisanku bahkan tak mampu menebus tangisan ayah dan ibuku. Maafkan aku, ayah dan ibu. Anakmu ini selalu bandel, tidak pernah menuruti kata ayah sama ibu. Tak pernah mau disuruh olahraga. Tak pernah mau menghabiskan antibiotik yang dikasih dokter karena merasa sudah baikan, tidur setelah sholat shubuh, tidur ketika pagi, tidur terlalu malam. Setidaknya itu yang kalian eluhkan ke aku tadi. Iya, ayah dan ibu benar. Ayah dan ibu yang paling mengenalku, yang mengkhawatirkanku, yang merawatku karena rapuhnya aku secara fisik sejak berusia 2 minggu di dunia.

Aku sayang sama ayah dan ibu. Aku tak ingin membuat ayah dan ibu kecewa dan menangis lagi. I’ll be fine, Aku akan sembuh, Insya Allah.. I’ll take care of myself now and then… 🙂

 
3 Comments

Posted by on January 4, 2014 in catatan - catatan, curhat ringan

 
 
Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull