RSS

Cirebon oh Cirebon…

06 Feb

Di akhir Desember, ibu datang ke Bandung, melihat keadaanku dan memenuhi janjinya untuk mengajakku ziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Ibu memilih perjalanan malam yaitu pukul 18.15 kereta berangkat dari Bandung dan sampai Cirebon jam 22.30. Wow. Stasiun Cirebon asik. Sayangnya badan terlalu lelah jadi tak sempat ambil foto. Well, untuk keluar dari stasiun aja harus turun, berasa lewat terowongan bawah tanah. Langsung jalan cepat menuju hotel yang kurang lebih 50 meter dari stasiun. Untung boleh check in! Awalnya receptionistnya agak ragu menerima kami. Mungkin rawan juga menerima tamu di malam hari. Tenang Pak, kita manusia kok. Baik-baik pula. Hehehe

Pagi-pagi sarapan di hotel kemudian menuju ke tujuan utama. Makam Sunan Gunung Jati. Masuk makam kemudian baca Yasin dan Tahlil di sana. Setelah selesai, ibu dan aku pergi ke keraton. Lupa namanya apa. Hehehe. Ada 2 keraton di Cirebon dan sayangnya waktu ke sana masih dalam perbaikan. Kemudian mencari-cari Pasar Pagi. Agak bingung dengan pasarnya. Bingung juga mau cari apa. Malah beli kerupuk, keripik-keripik dan terasi. Sempet juga masuk ke toko oleh-oleh. Ada yang terkenal dari Cirebon, Sirup Tjampolay dan Tape Ember karena tape ketan yang ditempatkan dalam ember. Mau beli tapi mengingat besok masih harus ke Semarang, ya ga jadi beli. Balik lah ke hotel. Entah kenapa badanku kedinginan hingga menggigil padahal suhu ruangan biasa saja. Ibuku yang bingung menyuruhku istirahat.

Siang yang panas, aku terbangun, lapar. Hehe. Ibu juga harus menukar tiket ke Semarang di stasiun yang dekat. Pergilah kami ke stasiun. Nahh, di dekat stasiun, ada tempat makan Empal Gentong dan Empal Asem yang terkenal, kepunyaan Putra Mang Dharma. Awalnya aku memesan Empal Gentong. Namun entah kenapa Empal Asem lebih seger dimakan di siang hari itu. Ada penjual tahu gejrot juga di samping warungnya. Enak, kata ibu. Bumbunya asli. Selesai makan, kami pun menuju ke stasiun. Badanku melemah. Malu sama umur. Harusnya kan aku yang antri di loket. Eh itu malah ibu. Really shame on me. 😦 Entah kenapa rasa panas di luar terasa berkali-kali lipat. Tubuhku terasa terbakar di dalam. Panas sekali. Padahal aku sedang tidak terkena sinar matahari. Sensor panas dinginnya bisa melonjak dan membeku seperti ini. Ibu benar-benar bingung dan pergi ke apotik setelah itu. Tubuhku dihajar dengan penurun panas dan antibiotik. Alhamdulillah setelah itu membaik 🙂

Sore menjelang malam. Membosankan jika terus tiduran di hotel. Aku ingin jalan-jalan dan melihat kondisiku yang membaik, ibuku menyetujuinya. Kami pergi ke salah satu mall di Cirebon, duduk di Gubug Pizza, memesan jus dan Green Tea Frappe kesukaan ibu, membeli kaos produksi Cirebon dan pulang membawa donat J.Xo. Sayangnya donatnya ga seenak yang di Surabaya. Payah. Perjalanan tidak terhenti sampai di situ.  Ada satu lagi kuliner khas Cirebon. Sega Jamblang atau Nasi Jamblang. Nasi Jamblang itu nasinya dibungkus daun jati. Konon katanya dibungkus daun jati agar tidak mudah basi. Lauk yang disediakan sangat beragam mulai dari sate udang, ayam, tahu, tempe, banyak! Melihat waktu menunjukkan pukul 17.00, Nasi Jamblang yang terkenal enak sudah tutup. Bapak tukang becaknya merekomendasikan ke Bu Nur. Lupa nama jalannya. Yang jelas melewati Grage Mall. Wow! Saat itu benar-benar penuh. Ada rombongan satu bis masuk ke tempat makan tersebut. Melihat tempat makan yang penuh, ibu bilang untuk membungkus saja. Dunia memang sempit ya. Pas pulang, ketemu temen kuliah di ITB, Kang Ruslan dan keluarganya, yang memang asli Cirebon. Aku agak histeris menyapa Kang Ruslan yang sedang menggendong anak bayinya. Habis kaget aja. Hehehe. Kabur dari Bandung, ketemu temen juga yang kenal. Ga salah berarti bapak tukang becaknya membawa kami ke sini. Kang Ruslan aja ke sini 🙂

Antri nasi jamblang macam lauknya nasi jamblang dan lauk pilihanku

Malam terasa singkat ketika harus istirahat sejenak dan harus terbangun pukul 01.00 karena kereta ke Semarang akan berangkat pukul 02.00

Well, yang sangat kuingat dari Cirebon adalah entah kenapa aku ketemu mbak-mbak yang teriak-teriak. Sore itu sebelum berangkat jalan-jalan, ada ibu-ibu sambil membawa anaknya berkata sambil setengah berteriak “Jangan naik angkot itu, supirnya pembunuh.” Untungnya naik angkot di seberang. Bukan di jalur itu. Kemudian ibu-ibu itu memanggil tukang becak. Uaah.. Ibu-ibu itu kembali berteriak, apalah itu bahasanya, aku tak tahu. Ya Tuhan… Kasian anak yang digandengnya!

Pulang dari beli nasi jamblang, ada mbak-mbak berteriak kepada seorang mas-mas yang masih memakai helm. Mbak-mbak tersebut tidak mau diajak pulang oleh mas tersebut. Mbak itu masih ngotot di dalam angkot. Masih tetap berteriak-teriak, bahkan menendang, menampar mas tersebut. Sedih. Ada anak-anak kecil melihat kejadian tersebut. Entah lah apa masalah mereka.

Hmmm… Jadi serem kalo ke Cirebon ketemunya hal yang aneh-aneh macam gitu… -_-

 

 

Advertisements
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull

%d bloggers like this: