RSS

Rasa Malu

17 Mar

“Sebuah kesalahan yang dilakukan berulang-ulang, kalo dibiarkan lama-lama bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran”

Entah kenapa saya menemukan kata-kata itu di sebuah buku. Dan entah kenapa hal itu saya benarkan. Saya hidup di Indonesia. Hidup di Indonesia itu berarti ribet. Diikat dengan norma masyarakat / norma sosial, norma agama, dan norma apalagi? Norma-norma tersebut tertulis dan tidak tertulis. Dan seringnya, yang tidak tertulis jauh lebih banyak daripada yang tertulis (untuk norma masyarakat / norma sosial). Jadi, bagi yang sadar dirinya tinggi, rasa malunya tinggi, biasanya penerapan norma masyarakat / norma sosialnya bagus. Kita tidak menganut adat budaya barat di mana kita bisa tinggal serumah dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan seenaknya. Pun bagaimana cara bergaul antara laki-laki dan perempuan. Adat ketimuran biasanya menganut budaya malu yang tinggi sehingga ada juga istilah malu-malu kucing. Kita tidak bisa berpakaian seminim orang barat. Jangankan ketika berpakaian biasa, di pantai pun, kita masih disuruh punya rasa malu dengan memakai pakaian tipis dan bukan bikini seperti di Hawaii. Tapi rupanya sekarang sudah rasa malu itu sudah tidak ada lagi (bagi beberapa orang). Paha dan dada di mana-mana. Mungkin sebagian orang menganggap “yaa sudah biasa, mau gimana lagi…” Kalau pahanya mulus bak model profesional, mungkin masih oke kali ya. Nah kalo paha dan kakinya banyak tatonya, masa ga malu? Belum lagi bentuknya yang tidak aduhai seperti pemukul yang dibawa pak hansip atau singkong yang kecil di atas dan besar di bawah. Kasian yang melihat. Sungguh.

Sekarang saya ingin menulis yang mengganggu pikiran dan mata saya akhir-akhir ini. Apa sih yang disebut dengan pacaran? Menurut saya ketika dua orang yang berkomitmen untuk menjalani sebuah hubungan bernama pacaran. Apa yang dilakukan ketika berpacaran? makan, jalan, jajan, nonton, foto berdua, makan eskrim di taman, itu adalah hal yang wajar. Masakin buat pacar, ngapel tiap malam minggu, itu juga hal yang wajar. Pegangan tangan, pelukan, ciuman juga hal yang wajar (saya ndak bilang itu semua halal untuk dilakukan loh). Tapi wajar ga sih ketika kamu hidup di kosan dan kamu membawa pasanganmu ke dalam kamar? Iya, kamar pribadimu. Hati dan pikiran saya masih tidak bisa menerimanya. Mungkin harusnya dulu pas saya pacaran saya melakukannya kali ya, biar tau ngapain aja di dalam kamar pasangan, toh dia sempat mengajak saya masuk ke dalam kamarnya. (Ampuni saya Tuhan) Setan ada di mana-mana, apalagi ketika berduaan dengan lawan jenis. Nah kalo iman saya dan iman dia kuat sih gapapa, kalo engga? Bahaya kan… Kalau pacaran itu adalah melakukan hal-hal yang semacam itu, mungkin sebaiknya saya langsung menikah saja. Ga ada bedanya kan? Saya bisa ngapain aja malah sama pasangan saya. Berduaan di kamar, oke. Pegangan tangan, pelukan dan ciuman apalagi. Semoga saya masih punya rasa malu. Terakhir saya sadari, saya pernah kehabisan rasa malu di tahun 2009. Semoga isi ulangnya cukup sampe tua…

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull

%d bloggers like this: