RSS

Monthly Archives: April 2014

Meninggalkan atau Ditinggalkan?

“Meninggalkan?
atau
ditinggalkan?”

Kadang aku berpikir, kenapa dia meninggalkan aku ? Tapi kadang aku juga sadar, yakin dia yang meninggalkan aku? Yakin aku yang ditinggalkan? Dan kemudian aku salah. Bukan dia yang meninggalkan aku. Tapi aku yang menarik diri darinya. Berhenti berbicara dengannya. Berhenti memberinya kabar. Padahal dia masih saja dengan santainya seperti biasa memberikan kabarnya ke aku. Dan aku begitu bodohnya berpikir dia meninggalkan aku. (Sshh. Pikiran-pikiran jelek macam itu, patutnya disingkirkan saja. Bikin su’udzon). But now I know…

-Yap, people come and go. Some other stay for a while. Some other stay for the last. That’s life.-

 
 

Hidup Cuma Titipan

“Hidup itu cuma titipan”

Hari ini salah satu benjolan yang mengalami peradangan, pecah dan keluar nanah. Sudah sebulan juga radang. Minum antibiotik? Sudah. Obat anti radang? Belum. 😀 Karena aku terlalu takut, aku ke poli umum unit rawat luka. Setelah luka dibersihkan, cairan dikeluarkan, sama dokter dirujuk ke dokter spesialis bedah umum. Entah kenapa setelah hasil FNAB keluar, dokter umum menyarankan ke dokter bedah. Sudah sejak sebulan kemarin sih. Tapi aku masih harus bolak-balik Gresik – Bandung, Bandung – Tangerang, Gresik – Tangerang. Terus terang aku lelah dengan hal ikhwal riwa-riwi (mondar-mandir) macam ini (aku aja lelah, gimana dengan ibuku yang selalu mengantarkan aku? Semoga Ibu selalu sehat dan kuat ya Allah. Aamiin). Dan akhirnyalah aku ketemu dokter bedah hari ini.

Si dokter bedah sedikit marah-marah mengetahui selama ini aku berobat herbal. Katanya “Obat herbal sih boleh saja. Tapi yang primer harus tetap jalan. Masa ga di kemo? Ya sudah nanti ke dokter spesialis penyakit dalam saja”. Diberitahu pula lah aku supaya berpikir ilmiah. Apalagi ibu menyebut almamater sekarang. Tambah panjang. ~.~ “Masa iya ga bisa berpikir ilmiah? Kamu kuliah belajar apa? Harusnya bisa mengedepankan ilmiah. Memangnya ada obat herbal yang sudah dilakukan riset secara internasional. Kamu kan, maaf ya, lebih pintar dari ibumu, ya untuk urusan yang macam ini”. Ibu mulai menjelaskan kenapa selama ini aku belum juga menyentuh kata “kemo”. Waktu Bulan Januari lalu, mellhat fisikku yang sangat ngedrop, dengan di-kemo, takut badanku lebih drop lagi, muntah-muntah, ga bisa makan. Terlebih lagi, semua benjolan ini observasinya panjaaaang dan lamaaaa. Aku juga takut di-kemo. “Hidup ini cuma titipan. Kita ga bisa semau kita sendiri. Iya kalau semua punya kita sendiri kita bisa semau kita”. Agak deg! juga denger kata-kata dokternya.

Aku tahu maksud dokter itu baik. Tapi dengan kata-katanya, yang juga melecehkan bunda, aku jadi naik pitam juga waktu di rumah (lemot banget). Bunda udah mengupayakan yang terbaik, tentu saja. Semua pengobatan, semua terapi sudah diupayakan. Bunda yang merawatku sejak kecil, yang tau aku. Kenapa dokternya menyebalkan sekali?

-Untuk semua teman-teman dokter yang membaca postingan ini, maafkan aku kalau kata-kataku salah.

Iya, hidup ini memang titipan. Kadang aku suka lupa. Berbuat semaauku. Memforsir sekuat tenaga tubuhku. Hingga aku tak menjaga nikmat yang sudah dititipkan. Mengabaikan rasa sakit. Sekarang aku sadar arti “hidup ini memang titipan”. Bismillahirrahmanirrahim. Semoga sekarang aku bisa menjaganya. Love you mom!

Heran sama bunda. Semua cobaan datang menimpa bunda tentang aku, tentang ayah, bunda masih saja bisa tertawa. Kuat banget sih Bun. Kau benar-benar tawakkal.. Iri aku samamu. Aku akan berjuang untukmu. Aku akan selalu kuat. Love you Bun 🙂 Love you more…

 
 
 
Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull