RSS

Monthly Archives: April 2015

Doa Anak Sholeh

“Rasulullah SAW bersabda: Ketika anak adam meninggal, maka terputuslah semua amalan-amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak-anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya.” (HR Tirmidzi)”

Saya selalu takjub dengan orang-orang. Kadang dengan saya duduk terdiam, orang bisa bercerita banyak hal, renungan-renungannya. Saya suka itu!

Sore itu, saya duduk bersama kawan lama, di warung penjual martabak. Martabak bihun. Kami memesan menu yang sama, favorit kita. Martabak telor, tahu, usus, porsi jumbo. Rupa-rupanya kami adalah pembeli terakhir. Karena setelah itu, pembeli yang datang ditolak oleh ibu penjualnya. Namanya Mbak Ti. Begitu kawanku menyebut beliau. Sambil membuatkan pesanan kami, beliau bercerita, hari ini beliau sendirian, tidak dibantu anak beliau yang sekarang sudah bekerja. Hari yang melelahkan dengan banyaknya pesanan. Entah apa prolog ceritanya, aku lupa, kemudian beliau bercerita. “Emak iki wis tuwek, kerjo sampe bengi. Emak iki ga njaluk opo-opo. Pokoke lek emak wis ga ono, emak mek njaluk kiriman dungo. Mek iku thok. Lah iyo, saiki direwangi kerjo koyok ngene, moso yo lek emak wis ga ono, arek-arek sampe lali karo aku.” Intinya, ibu itu bercerita, kalau beliau sudah tua, sudah bekerja seperti ini sampe malam, beliau tidak mengharap apa-apa terhadap anak-anaknya. Beliau cuma berharap dengan kerja seperti ini, ketika beliau tidak ada, beliau cuma berharap jangan lupa untuk selalu dikirim doa. Hening diantara kami… Kemudian ada tetangga depan rumah beliau datang, mengajak ngobrol, memberi beliau oleh-oleh dari luar kota.

Ketika pulang, kawan lamaku juga bercerita,”Iya, teman kerjaku yang sudah senior juga berkata begitu. ‘Saya ini tidak investasi apa-apa. Saya cuma investasi anak. Berharap nanti anak-anak saya mengirimkan saya doa ketika saya tidak ada.’” Begitu kurang lebih kata kawan saya, dia kutip dari teman kerja seniornya.

Kadang melakukan refleksi diri… Diantara semua harapan dan mimpi saya, saya ingin jadi anak sholehah, menjadi manusia yang lebih baik. Supaya doa saya yang saya kirimkan kepada almarhum ayah, diijabah oleh Allah, doa saya terhadap kebahagiaan ibu saya juga diijabah oleh Allah. Di situ saya ingat untuk menjauhi dosa, yang terkadang saya khilap.. 🙂

Advertisements
 
 

Tak kenal maka tak sayang – Mengenang (Alm) Olga Syahputra

Melihat TV selama dua minggu ini, antara kudu ngguyu (ingin ketawa), yo kudu nangis pisan (ingin menangis juga), orang yang bikin ketawa kini sudah tidak ada. Ya, barangkali aku juga satu dari sekian juta orang yang kehilangan candaannya, merindukan kehadirannya di TV. Huaaaa… Mungkin aku juga satu dari sekian banyak orang yang juga menghujat cara dia membuat candaan, karena biasanya suka menghina fisik, menyamakan fisik dengan binatang atau benda yang tidak pantas, dan gayanya yang ke-wanita-an (maafkan saya 😦 ). Tapi tak bisa dipungkiri, itu juga menjadi ciri khasnya. Memang seperti itulah. Tak ada niat menyakiti, hanya canda polos dan ceplas ceplos yang ala kadarnya. Mungkin terlihat tak dipikir dulu kalo ngomong. Sampai saat ini, dia salah satu entertainer yang bisa akting dan bercanda maksimal, yang total dan tak tahu malu, dan terkadang dihina orang. Dan sekarang, aku harus melihat tayangan yang diulang-ulang, bukan tayangan yang baru… Setelah hampir 1 tahun dirawat di rumah sakit (7 bulan di Singapura) karena sakit meningitis yang dideritanya, takdir maut menjemputnya untuk kembali ke sisi Allah.

He was so young, talented, hard worker. Dibalik gaya ke-wanita-annya yang dibuat-buat, dia orang yang sangat laki-laki. Dia sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya, sayang sama keluarga. Semua hasil kerja kerasnya, dia dedikasikan untuk keluarga. Dia memulai semua kerja kerasnya dari nol. Mulai dari ikutan casting yang gagal sama Ruben, dibayar murah, hingga dibayar mahal dan kebanjiran job hingga sekarang sebelum sakit. Semua yang didapatnya hingga hari ini, benar-benar kerja kerasnya, belum termasuk gagal casting, dihina orang, dihujat orang, dimarahi orang, dicibir orang, dipermalukan. (Aku sendiri belum tentu sanggup kalau ada di posisinya). Mungkin karena semangatnya yang benar-benar ingin mengubah nasib keluarganya ya, hidupnya dan keluarganya bisa enak hingga sekarang. Melihatnya di TV, mengikuti kisah hidupnya dari sahabat-sahabatnya, dari keluarganya, subhanallah. Beliau orang yang menginspirasi. Almarhum orang yang mendahulukan sholat, selalu sholat dhuha, tidak pernah lupa berbagi, tidak pelit untuk memberi, selalu membahagiakan keluarga. From nothing to really something! Orang yang baik.. Hingga kepulangannya di Indonesia, kata manajernya, semua proses perijinannya dipermudah. Alhamdulillah. Orang yang baik.. Bahkan sudah meninggalpun, masih bisa menghidupi orang yang masih hidup. Kata adiknya, penjual bunga di sekitar makam, selalu habis. Orang yang baik, biar Allah yang membalas. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, menempatkan beliau di sisi Allah  yang terbaik. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Udah ga sakit lagi, bahagia ya di sana Alm. Olga 🙂

 

Susu Homogenisasi, Susu Pasteurisasi dan Susu UHT

Dari pengalaman belanja yang selalu melihat dan menimbang harga (emak-emak banget ya!), agak heran waktu melihat susu Greenfields harganya 15ribu. Eh, bukannya Greenfields itu harganya 29ribu ya? Kalo diskon biasanya 25. Kok ini murah banget? Dan herannya, kok ini disimpan di rak biasa di suhu ruangan? Bukannya Greenfields selalu disimpan di lemari pendingin? Apa bedanya? Masa iya yang 15rb ini KW? Atau nama merknya diplesetin ya? Karena emang merk yang satu ini rasa susunya gurih makanya hafal dengan susu merk ini, di samping warung kopi tempat saya numpang baca-baca juga pakai susu ini. Saking penasarannya, saya lalu mengambil kotak di suhu ruangan untuk dibedakan dengan kotak yang di suhu pendingin. Logonya bener kok. Tulisannya juga ga diplesetin. Lalu saya membaca di bawahnya lagi. Yang di suhu ruangan bertuliskan “Susu UHT” dan yang di suhu pendingin tulisannya “Susu Pasteurisasi”. Ha? Beda ya? Lalu saya mampir ke warung kopi dan kebetulan baristanya udah ce-es sama saya. Pas nuang susu di tumbler, saya lalu melihat jenis susunya. Di situ tertulis “Homogenised and Pasteurised milk”. Pas aku balik kotaknya, malah huruf Cina bukan bahasa Indonesia. Lah? Apa lagi itu Homogenised and Pasteurised milk? *Harusnya aku juga nyari label halal ya, karena tulisannya huruf asing tersebut, cuma ga kepikiran waktu itu*.

Akhir-akhir ini baru sempat browsing jenis-jenis pengolahan susu, saya akan merangkumnya di tulisan kali ini…

  1. Susu Homogenisasi. Susu mengalami proses homogen yang bertujuan menyebar percikan lemak susu (globula) merata pada cairan dan juga menyeragamkan bentuk globulanya.. Susu ini rasanya gurih. Biasanya dikombinasikan dengan proses pasteurisasi.
  2. Susu Pasteurisasi. Susu yang telah mengalami proses pemanasan hingga suhu tertentu selama waktu tertentu. Rasa susunya juga gurih. Sumber yang saya baca menuliskan 62 – 65 C selama 20 menit (Long Temperature Long Time) atau 85 – 95 C selama 1 – 2 menit (High Temperature Short Time).
  3. Susu UHT. Susu yang mengalami pemanasan dengan suhu yang lebih tinggi dari pasteurisasi (di atas 100 C) dengan waktu yang lebih sedikit. Semakin tinggi suhu pemanasan, semakin cepat waktu pemanasan. Rasanya tidak segurih susu pasteuriasi. Sumber yang saya baca menyebutkan 135 -155 C selama 1-2 detik. Ada juga yang menyebutkan 137 C selama 0,5 detik.
  4. Susu Skim. Susu skim mengandung protein tapi kehilangan lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Susu skim mengalami proses pemisahan lemak susu dari susu full cream. Rasanya tidak segurih susu pasteurisasi.

    Masih ada susu kental, susu krim, susu bubuk. Tapi saya membahas susu yang cair saja 😀

 

 

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2015 in catatan - catatan, info ringan

 
 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull