RSS

Ragu~

15 Jul

Hai apa kabar? Saya lagi bingung. Hehehe. Punya pilihan bingung. Ga punya pilihan juga bingung. Manusia, dalam hal ini saya, cenderung bingung utk suatu hal yang tidak pasti, apalagi untuk masa depan. Beberapa teman pasti tahu saya akan membicarakan apa πŸ™‚

Ya, penempatan kerja. Karena ikut Beasiswa Unggulan tahun 2012, maka, seusai lulus harus mengabdi selama 3 tahun menjadi dosen. Tahun 2012 ketika mendaftar, tidak diberikan pilihan kemana mengabdi setelah lulus. Baru untuk angkatan 2013, diberi pilihan akan mengabdi kemana setelah lulus, saya tahunya dari adik kelas yang mendaftar beasiswa yang sama (meskipun namanya berubah menjadi BPP-DN). Waktu saya ikut mengintip, ada Poltek baru di Madiun. Saya jadi kesal sendiri, wah coba kalo ada pilihan, saya pasti milih di situ, karena tentu saja, Madiun masih di wilayah Jawa Timur, masih dekat lah dari rumah (sekitar 3 jam naik kereta ditambah 1 jam ke stasiun, jadi total 4 jam perjalanan, paling cepat).

Kenapa saya ingin Poltek? Yang saya tahu, poltek adalah pendidikan vokasi. Kalo di bayanganku, poltek merupakan kakaknya SMK. Ya, SMK, tempat saya pertama kali mangajar waktu PPL. Saya jatuh cinta sama dunia SMK, terutama anak TKJ (percayalah mereka itu anak-anak yang luar biasa). To be noted, tiap anak jurusan memiliki karakteristik tersendiri di SMK jurusan TI, apakah itu TKJ, SI, MM, RPL, mereka berbeda satu sama lain!

Jadi, ketika dapat penempatan Poltek, saya suka! Di sisi lain saya meragu. Ragu sekali. Seandainya kalau ayah masih ada, saya pasti akan langsung berangkat (tidak boleh berandai-andai). Tapi situasinya berbeda sekarang. Meskipun di rumah juga ga berkontribusi banyak buat ibu dan adik, setidaknya berada di rumah bisa mengurangi kekhawatiran ibu, menjadi teman buat adik, dan menghemat uang kos dan uang makan.

Di Gresik ada 2 universitas. Waktu itu, yang buka lowongan UnMuh Gresik. Saya daftar di sana biar bisa kerja dekat rumah sambil berharap jangan ada telepon dari Madiun sebelum saya ikut tes di UnMuh. Doa saya terkabul. Saya dapat panggilan untuk tes di sana dan Poltek Madiun juga belum telepon. Seminggu setelah tes, Madiun telepon. Huahaha. Just exact as I wish. Saya meminta tambahan waktu untuk kesediaan saya mengabdi di sana karena saya menunggu pengumuman di Gresik sini. Saya dengan terpaksa merepotkan Kaprodi unmuh untuk menanyakan apakah saya ada kemungkinan diterima atau tidak. Beliau menanyakan ke pihak SDM dan belum ada jawaban. 3 hari berlalu, Pihak Poltek sudah harus melapor tentang kesediaan saya mengabdi (atau tidak) ke dikti. Keadaan yang benar-benar gambling. Kalau saya tolak, terus saya ga ketrima di unmuh, trus saya dapat penempatan dikti lebih jauh lagi, bagaimana? Kalau saya terima, trus di unmuh juga ketrima, saya harus gimana? Berpikir dan berpikir, ditambah dengan rasa haru bak epiosde drama korea, akhirnya saya mengiyakan bersedia mengabdi di sana. The safest choice that I could make.

Dua minggu dapat telepon dari unmuh, saya dapat kabar saya boleh bergabung di sana. Saya juga mengambil surat pengajuan dosen tetap untuk mengurus NIDN. Hati menjadi bimbang kembali. Ulalaa~

Well, sebenarnya… Ketika mendaftar di unmuh, entah kenapa ibu semangat sekali, tapi aku engga. Tiap nulis surat lamaran bawaannya marah terus. Berangkat masukin lamaran juga sambil marah. Mau tes juga malas belajar. Pas sesi wawancara keislaman juga. Kalo ga ingat ibu, aku paling udah nggebrak meja dan pergi gitu aja. Tapi semua aku lakukan demi ibu, demi ibu, aku harus bisa. Aku harus berusaha, ngoyoh, menahan marah. Di samping itu… Sebenarnya saya sudah mendaftar sesuai dengan persyaratan dan ketentuan, lalu tiba-tiba tetangga saya berbaik hati memanggil saya untuk datang ke unmuh (yang memang tempat beliau kerja) dan mengenalkan saya ke kaprodi jurusan saya. Saya kurang suka dengan cara yang begini. Terkesan ada unsur korupsi kolusi nepotisme (entah yang mana dari tiga itu). Idealis? Iya. Dan kalau saya masuk dengan cara yang sama, well, hipokrit sekali diri saya ini πŸ™‚ Saya ga suka. Maaf, bukan saya tidak menghargai usaha beliau atau malah dikira sombong. Setidaknya, saya mencoba jujur kepada diri saya sendiri dan memulai dari diri saya.

Durhaka kah saya kalau saya memilih kerja jauh dari rumah? Merantau lagi? Salahkah saya kalau saya menghindari perbedaan keyakinan kecil yang akan terjadi nanti ketika saya bekerja di Gresik? 😦

Terkadang, Allah sudah mengabulkan semua doa. Terkadang, manusianya sendiri itulah yang menggagalkan doa yang telah dimintanya… Atau saya salah dalam mengucap doa?

Well, secara teknis sebenarnya saya sudah memilih bukan? Poltek Madiun… But who knows, if there is any possibility to change the decision… If I have to…

Dan selesai ditulisnya tulisan ini pun, saya masih meragu πŸ™‚ Mau tinggal susah. Mau pergi pun takut. Entahlah… Doakan saya untuk pilihan yang terbaik. Untuk saya. Untuk keluarga saya. Untuk agama saya. Untuk masa depan saya. Aamiin.

Advertisements
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull

%d bloggers like this: