RSS

Category Archives: hidup tukang kritik

Mantan, gimana caranya move on?

Tetiba pagi kemarin, ingin tanya sama mantan 2 hal.
1. Mas mantan, ketika kita putus, kenapa kamu ga ngajak balikan?
2. Mas mantan, gimana caranya move on?

Masih males nglanjutin ngetiknya. Nanti aja deh 😎 Hahaha

 
 

Menjadi ‘reporter’ yang kritis untuk diri sendiri

Huaahh. Akhir-akhir ini banyak sekali berita, mulai dari berita politik, sosial, ekonomi bahkan berita selebriti pun *ketahuan suka liat entertainment news, yang sliweran di media sosial, patut dipertanyakan keakuratannya, apakah sesuai dengan nyata dan fakta yang sebenarnya. Contoh saja yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan dengan headline β€œMUI memberi fatwa bahwa BPJS Kesehatan haram”. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah β€œMUI memberi penilaian bahwa BPJS kesehatan belum mencerminkan konsep ideal jaminan sosial dalam islam sehingga perlu penyempurnaan ketentuan dan sistem agar dalam pelaksanaannya sesuai syariah”. Apakah sama esensinya? Jawabannya tentu saja tidak. Berita sensitif seperti ini memicu reaksi dari banyak orang, mulai dari orang yang satir hingga menghujat dan memberikan caci maki tanpa tahu yang sebenarnya. Apalagi orang-orang yang sentimen terhadap MUI, tentang perkara halal-haram, dan BPJS Kesehatan. Padahal untuk mengeluarkan fatwa, bukan proses yang singkat untuk lembaga setaraf MUI.

Agaknya kita perlu menjadi seorang reporter bagi diri sendiri, yang tak hanya menelan berita mentah-mentah apalagi mempercayai dari satu sumber saja. Terlebih lagi dengan mudahnya main klik membagikan berita di akun media sosial atau grup aplikasi yang sering kita gunakan. Kita pasti tahu bahwa kita adalah orang yang mudah terpancing emosinya. Maka, seandainya saja, ada berita begitu, langsung saja, wuss, langsung rame sendiri sehingga kita ga tau siapa yang melemparkan isu tersebut dan sumbernya dari mana. Di jaman yang dengan mudahnya mengakses informasi ini, kita harus memberikan filter untuk informasi yang kita dapat. Kita harus seperti reporter yang kritis, mencari asal-usul berita tersebut, mencari kebenarannya dari (nara)sumber yang jelas terpercaya, menganalisis konteksnya sehingga kita bisa tahu keakuratan sebuah berita. Ribet? Mungkin aku saja yang terlalu malas mencari kebenaran yang sesungguhnya. Lebih mudah mengkritik saja toh? *tanya ke diri sendiri.. *ngomong apa sih?

baca berita lengkapnya : Fatwa dan hasil ijtima’ ulama komisi fatwa MUI

Eh btw, tidak sesuai syariah itu sama ga sih artinya dengan haram? *browsing lagi deh :v

 
 

Great Teacher Onizuka

Yeah! Akhirnya keturutan nonton GTO. Karena dilanda bosan waktu liburan di rumah nenek, akhirnya buka-buka film di laptop adek sepupu yang isinya manga dan dorama semua, dan nemu nonton Geat Teacher Onizuka. Ini versi remakenya di tahun 2012. Pertama kali muncul serial drama TV GTO tahun 1998 yang diangkat dari manga dengan judul yang sama. Sesuai judulnya, Great Teacher Onizuka, dan memang kebanyakan anime. manga, J-Drama yang pernah aku baca dan aku lihat seperti Detective Conan, Crows Zero, My Boss My Hero, 700 Days of Battle, ceritanya berlatar di sekolah. Untuk versi remakenya, karakter di film lebih mirip dengan yang ada di komiknya, yah meskipun terlihat kurang ganteng dibanding dengan versi GTO yang tahun 1998, tapi keren lah.

Resensi singkatnya, Eikichi Onizuka, seorang preman, anggota geng motor, yang di hari pertamanya bekerja sebagai tukang kebun di sekolah, membanting guru kepala yang suka menganggap rendah murid-muridnya hingga muridnya di-skors, mengata-ngatai murid dengan sebutan sampah, kotoran. Kejadian ini terjadi di kantin, disaksikan oleh beberapa guru, para siswa dan ibu kantin (yang ternyata direktur sekolah yang sedang menyamar). Karena tindakan “berani” tersebut, Eikichi mendapatkan tawaran dari Direktur sekolah untuk menjadi guru di sekolah tersebut. Direktur berpikir, ada hal-hal yang tidak bisa dipecahkan dengan ‘cara-cara biasa’. Eikichi yang menganggap sekolah itu haruslah menyenangkan, membuktikan pemikirannya dengan menjadi guru yang luar biasa karena tanggung jawabnya menjadi wali kelas 2-4 yang diisi dengan siswa yang luar biasa pula. Dari situ, keseruan-keseruan berawal.

Hehehe. Segitu aja sih resensinya. Ntar kalo kebanyakan jadi spoiler πŸ˜€ Tapi yang jelas, drama TV ini recommended buat ditonton. Banyak pelajaran dasar yang bisa dijadikan masukan bagaimana menjadi seorang pendidik meskipun banyak adegan ‘tiba-tiba’ yang menurutku kurang masuk akal. Belum pernah baca komiknya sih, jadi ga bisa ngebandingin dengan versi komiknya. Kalo ada yang pernah baca dan lihat filmnya, kasih komentar ya πŸ™‚

 

Pengalaman Menguji Mahasiswa

Hai Kurnia. Sesuai sapaan pertama, aku nulis post ini buat Nia πŸ˜€ Hohoho

Waktu Ida ambil surat pengajuan dosen tetap di unmuh itu, ida dapat satu pengalaman baru! Ida ikut ke dalam ruang sidang untuk menguji mahasiswa πŸ˜€ yeay! Seru aja rasanya, beberapa bulan lalu, diuji oleh dosen, dan sekarang ida ikut nguji. Ternyata kayak gini ya rasanya. Huahahaha. Dalam hati ketawa aja.

Oke, untuk mahasiswa pertama, masih semangat nih. Tapi masih malu untuk bertanya pada mahasiswa. Pertama, pengalaman pertama. Kedua, materi pengolahan citra. Seumur kuliah, Ida belum pernah dapat matakuliah itu. Nia pernah? Dari keseluruhan, ida cuma pengen ngasih masukan aja sih, slide presentasinya penuh banget. Mahasiswa masih membaca slide presentasi bukan menjelaskan presentasi. Tapi batal karena malu. Sisanya, sudah dicerca pertanyaan oleh dosen senior. Jadi, sudah cukup lah.

Mahasiswa kedua. Pengolahan citra lagi. Ida jadi belajar tentang pengolahan citra. Ida masih ga berani bertanya-tanya kepada mahasiswa. Maka Ida baca semua isi skripsi dengan teliti. Dan wow! Tata tulisnya berantakan. Sepele. Tapi banyak. Hehe. Jadi ida memberi masukan tentang itu aja, biar diperbaiki πŸ™‚

Mahasiswa ketiga. Pengolahan citra lagi πŸ˜€ Kali ini ida bosan. Haha. Topik yang sama dengan sebelumnya, namun beda metode. Ida baca semuanya. Bukunya rapi. Tata penulisan bagus. Ida tinggal selonjoran. Mungkin memang sebaiknya sebelum menguji, baca dulu buku skripsinya dan pelajari juga isinya. Maklum, pengalaman pertama. Hehehe.

Masih banyak yang harus ida pelahari, tentu saja. Semangat! Untuk diri sendiri supaya lebih baik dan untuk lebih berguna bagi pendidikan di Indonesia πŸ˜‰ Saling menyemangati ya Nia πŸ˜€

Miss you! Peluk dan cium jauh dari Ida. XOXO

 

Siang hari di Jogja di bulan Ramadhan

Hari Selasa, 30 Juni kemarin, ibu, aku dan adik pergi ke Bandung (kenapa nulis Bandung sih? Kan judulnya Jogja -_-” Kangen yaaa :v) . Bagi musafir, diperbolehkan tidak berpuasa. Tapi apalah, orang cuma ke Jogja. Naik kereta yang ada ACnya pula. Insya Allah masih kuat. Hehehe. Nyampe stasiun kepagian, jam 06.15. Padahal kereta berangkat 07.30. Begitulah kalo naik kereta sama ibu. Bisa santai-santai di stasiun. Kalo saya sendiri yang naik kereta, 5 menit sebelum kereta berangkat paling baru nyampe stasiun.

Di stasiun saya melihat ibu dan anak-anaknya makan, mereka memakai jilbab, jadi mudah untuk mengenali mereka. Mungkin mereka bepergian jauh atau berhalangan. Naik kereta jes jes jes.. Jam 10, di kereta ada ibu tua dan bapak tua memesan makanan ke petugas kereta api, sepertinya non muslim, gapapa kan makan.. Nasi Rames. Nyam! Baunya… Mantab! Bikin ngiler. Tapi wong saya sudah pernah makan. Jadi ya biasa aja. Eh, pengen juga sih.. Hehe. Anggap saja godaan. Tahan Tahan πŸ˜€

Siang jam 13.00 nyampe Jogja. Langsung meluncur ke jalan Dagen di kawasan dekat malioboro. Hotel sudah dipesan via telepon sebelumnya (iya, biasanya telepon dulu, untuk membandingkan lebih murah pesan langsung atau via web, dan kali ini lebih murah via telepon langsung hotel dari pada di wesite Pagoda). Dan wow! Jalan di sekitaran hotel banyak gerobak penjual makanan. Iya, penjual makanan. Macam nasi rames, gudeg, lalapan. Dan baru kali ini sih, liat yang jual makanan tanpa penutup, seperti ‘warung kaki’ yang sering saya temui di Gresik, Surabaya, ataupun Malang. Ekstrim banget, hahaha, batinku. Aku lebih memberi apresiasi kepada tempat makan besar macam McD, KFC dan sejenisnya yang memberikan penutup ketika siang hari di tempat makannya.

Sebenernya ga ada masalah, mau berjual makanan di pinggir jalan, yang makan di pinggir jalan juga banyak, no probs at all. Bangsa Indonesia memiliki toleransi yang tinggi. Jadi ya silakan lakukan sesuai dengan porsinya masing-masing. Supaya rukun, damai dan berkah.

 
 
The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Some Good Eats

Eat and don't worry about it

Anggriani

Bacalah! Tulislah !

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Catatan Bang Akrie

Simplicity.Humble.Joyfull